Petarung malam yang
memeluk sebuah pelukan
kaki yang berjalan tanpa langkah , dengan bahasanya yang khas tanpa
mengeluarkan kata-kata ataupun suara walau sebising . dipenantian terakhir aku
menanti datangnya seseorang yang tak ku kenal rupa dan bentuk pelipis kanannya
yang puisi.
Pada malam tak telalu gelap dari sore hari namun tak juga secerah
pagi , kalian bisa menemukanku di balik tetesan keringat , telapak tangan yang
kasar , atau bahkan di sela-sela kaki seorang ibu yang sedang memeluk sebuah
pelukan di pelukannya.
malam hari , disampingku adalah diriku sendiri yang bicara dengan
bahasa ibu menceritakan sebuah kisah yang tak di mengerti oleh , deru angin ,
risau hati dan kau.
mantap KAKAk
BalasHapusJiwah
BalasHapus